Posted by: yullyshelsa | October 18, 2009

PMRI Menjadikan Guru Kreatif lho….

Menciptakan suasana belajar matematika di kelas yang penuh inspirasi, kreatif dan antusias bagi siswa merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab seorang guru. Dengan demikian, guru bersama siswa akan selalu merindukan suasana kelas yang menyenangkan dan berkesan. Untuk meningkatkan kualitas belajar siswa, dibutuhkan sebuah proses kreatif dalam merancang proses pembelajaran. Tentunya peran guru secara optimal diharapkan mampu mendayagunakan potensi diri sehingga menghasilkan ide-ide baru dan cerdas, sehingga pembelajaran matematika dapat berjalan dengan baik.

Implementasi PMRI sebagai salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang diadopsi dari RME yang berasal dari Belanda mempunyai beberapa karakteristik. Treffers dalam Ariyadi (2008) menjelaskan bahwa: ”RME can be described by means of the following five characteristics (Treffers, 1987):

  • The use of contexts (menggunakan konteks)
  • The use of models (menggunakan model)
  • The use of students’ own productions and constructions.
  • The interactive character of the teaching process.
  • The intertwinementof various learning strands”

Dengan mengimplementasikan PMRI di kelas, guru dengan sendirinya akan medesain pembelajaran sesuai dengan karakteristik PMRI, untuk menjelaskan suatu materi guru harus menggunakan konteks yang sesuai dengan siswa, contohnya pada materi pecahan, biasanya anak2 yang bersekolah di Jakarta tidak asing lagi dengan PiZZa, mereka bisa menggunakan konteks piZZa untuk mengenalkan konsep pecahan, sedangkan bagi masyarakat Sumatera Barat biasa dengan kue gadang.

Proses kreatif juga berarti bagaimana membuat setiap siswa memiliki multiperspektif dan cara pandang yang luas terhadap sebuah fakta. Proses kreatif juga berarti bahwa setiap siswa mampu mengamati hal-hal detail yang menjadi rujukan dalam berpendapat maupun menyelesaikan permasalahan, baik untuk dirinya sendiri maupun komunitas dalam masyarakat.

Guru matematika di sekolah saat ini tidak hanya dituntut untuk mendesain pembelajaran baik itu soal, media dan strategi apa yang akan digunakan pada proses pembelajaran. Hal ini disebabkan beberapa hal diantaranya adalah tuntutan undang-undang yang muncul. Melalui PMRI guru-guru akan terpola untuk berpikir bagaimana menciptakan strategi, media maupun desain kelas dan sebagainya sesuai dengan konteks dan kondisi siswa, sehingga pembelajaran matematika lebih menggairahkan seperti menggunakan presentasi pengajaran yang lebih hidup dan menarik bagi setiap siswa, kemudian menyusun bahan pengajaran yang sesuai, merancang setting kelas. Point penting adalah keterlibatan aktif siswa. Siswa yang mempunyai sikap analitis, kritis membutuhkan dorongan dan stimulasi yang simultan (terus menerus).

Di sinilah peran penting seorang guru yang menjadi fasilitator siswa untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, menjelajahi lebih dalam tentang suatu ilmu dan menggali lebih banyak informasi yang ada, hal ini senada dengan karakteristik dari PMRI. Performa guru juga ikut andil untuk ikut menciptakan suasana yang mendukung saat belajar. Guru yang optimis, percaya diri, mempunyai kapasitas keilmuan yang tidak diragukan akan melejitkan potensi siswa dan membuat siswa menjadi optimis dan percaya diri. Terus maju Pendidikan Indonesia!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: