Posted by: Kurnia | November 6, 2009

Konteks ala PMRI

Salah satu karakteristik PMRI menyatakan bahwa konteks nyata (real context) digunakan sebagai starting point dalam pembelajaran matematika untuk dieksplorasi. Menurut Zulkardi konteks merupakan situasi atau fenomena/kejadian alam yang terkait dengan konsep matematika yang sedang dipelajari. Penggunaan konteks ditujukan agar siswa mampu memaknai pelajaran matematika sebagai pelajaran yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata siswa dan berguna bagi anak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep-konsep matematika dengan menemukan kembali rumus, konsep, atau prinsip dalam matematika. Selain itu penggunaan konteks dapat memudahkan siswa mengenal masalah sebelum memecahkannya.

Oleh karena itu guru sebagai pembimbing siswa dalam menemukan konsep matematika harus kreatif dalam menemukan konteks yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Guru harus mampu menghadirkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa seperti benda-benda yang ada di sekitar siswa, atau guru bisa bercerita tentang kehidupan di rumah siswa atau bercerita tentang sesuatu yang disenangi siswa. Pada saat kuliah umum bersama Jaap den Hertog, salah seorang pakar matematika realistik dari Belanda, Jaap bercerita mengenai pengalaman bersama anak perempuannya yang mengatakan bahwa pada saat ditanya penjumlahan 5 ditambah 2, sang anak tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut, namun ketika pertanyaannya diubah: jika kamu mempunyai permen 5 dan saya memberimu 2 permen lagi berapa permen yang kamu miliki? Sang anak dengan cepat dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Contoh lainnya adalah pada materi perkalian, guru dapat membuat konteks jendela sebagai starting point pembelajaran dengan menampilkan gambar jendela. Kemudian mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan perkalian. Berapa banyak kotak yang ada pada gorden?

gambar 1

Pada tahap awal siswa mungkin menghitung satu per satu banyak kotak pada kain jendela. Namun siswa nantinya akan menyadari ada cara yang lebih cepat untuk menghitungnya. Yaitu dengan melakukan penjumlahan berulang. Lebih jauh guru dapat menanyakan banyak kotak pada gorden sebelah kanan dengan menggunakan konsep simetri. Selanjutnya pembelajaran dapat dilanjutkan guru dengan mengadakan berbagai aktivitas yang melibatkan siswa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: