Posted by: yullyshelsa | December 26, 2009

Matematika Realistik VS Matematika Maya

Berawal dari diskusi kecil dengan teman seperjuangan mahasiswa IMPOME, suatu pagi penulis bertukar pikiran tentang bagaimana eksisnya matematika realistik yang sedang marak-maraknya berkembang di Indonesia. Hal ini menjadi topik pembicaraan kami, karena kita bisa merasakan fenomena masyarakat modren sekarang ini, seperti pemanfaatan kalkulator untuk menghitung, begitu juga dengan banyaknya software matematika untuk mencari berbagai macam solusi yang biasanya diselesaikan dengan menggunakan matematika seperti penyelesaian program linier, statistika dan sebagainya. Hal lain yang dapat kita lihat sekarang ini adalah dengan pemanfaatan komputer dan internet, seperti rekenweb, kita mencoba dengan mengklik saja, kita sudah menemukan jawaban. Terbesit dihati penulis, mengapa kita tidak membudidayakan pemanfaatan “matematika maya” ini, karena lebih efisien dan menghemat waktu. Kemudian berkaca dari sedikit pengalaman dalam mengajar di beberapa sekolah, penulis sebagai guru matematika selalu sering melihat siswa yang mengkerutkan kening, dan selalu mempunyai image bahwa pembelajaran matematika itu sulit. Image ini menjadikan topik besar dalam diskusi kami, karena kebanyakan orang seakan mengakui bahwa matematika adalah sebuah mata pelajaran yang penting, tetapi hanya sedikit yang memahami apa sebenarnya matematika itu. Jujur kita akui, fakta ini sudah mulai terpecahkan, walaupun kita sendiri tahu problema ini belum tuntas. Perlu kita ingat bersama-sama bahwa jangan kita pernah lengah, kita harus sadari bahwa ini merupakan ancaman non militer yang akan menyerang ketahanan nasional bangsa kita karena lemahnya kemampuan komunikasi bernalar baik lisan maupun tulisan dari siswa kita.

Beberapa saat kemudian, penulis membaca berbagai artikel dari beberapa sumber, mencari jawaban dari keraguan dihati ini. Pada akhirnya, penulis mendapatkan kesimpulan bahwa kita sebagai pemerhati pendidikan dan guru perlu mengemas matematika untuk siswa yang akan kita ajar. Keyakinan kita tentang apa arti mengetahui dan mengerjakan matematika dan tentang bagaimana siswa memahami matematika akan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap bagaimana pendekatan kita mengajar matematika, baik secara realistik maupun secara maya. Banyak guru mulai menggunakan apa yang disebut “pendekatan Standar” yaitu pembelajaran yang lebih koporatif, lebih menekankan pada konsep dan pemecahan yang lebih luas. Misalkan pada perkalian, guru harus terlebih dahulu menanamkan konsep bahwa perkalian itu merupakan penjumlahan beberapa kali (matematika realistik), kemudian pemecahan yang lebih luas siswa bisa saja memanfaatkan penggunaan kalkulator (matematika maya) dengan catatan siswa terlebih dahulu mengerti dengan konsep perkalian itu. Terkadang perubahan-perubahan ini sering tidak mendasar dan tidak benar-benar mengubah sifat apa yang siswa kerjakan dan bagaimana mereka berfikir di dalam pelajaran matematika.

Pendekatan Matematika Realistik Indonesia merupakan adaptasi dari RME (Realistik Mathematic Education) merupakan era matematika modern yaitu era kontekstual. PMRI ini merupakan inovasi dalam pembelajaran matematika, biasanya guru mengajarkan matematika, siswa mempraktekkan matematika, siswa mempraktekkan untuk sementara waktu, dan kemudian mereka diharapkan dapat menggunakan keterampilan atau ide-ide yang baru untuk menyelesaikan soal. Pendekatan ini secara kuat berakar pada ciri-ciri khas alam dan kebudayaan Indonesia, sehingga siswa termotivasi dan terbantu dalam proses pembelajaran matematika.

Menurut Hasanah dalam http://hasanahworld.wordpress.com/, alat Peraga pembelajaranmatematika seperti dibawah ini:

Dapat kita lihat bahwa sebagai hasil dari inovasi dalam bidang teknologi, penggunaan komputer dan internet dalam dunia pendidikan di Indonesia mulai meluas. Demikian pula dalam dunia pembelajaran, pemanfaatan internet dan komputer sudah merabah pada kelas-kelas maupun rumah. Dari beberapa sekolah yang penulis pantau melalui wawancara dan kunjungan di Sumatera Barat, seperti Padang Panjang, Bukittinggi, Tanah Datar, Padang dan Dharmasraya, ada beberapa sekolah sudah memiliki akses internet dan bisa memanfaatkan penggunaan komputer dan internet ini untuk pembelajaran matematika. Pemanfaatan teknologi komputer dan internet dalam sekolah atau kelas membawa perubahan pula pada pendekatan mengajar dan belajar matematika. Dengan memanfaatkan hasil inovasi tersebut, pembelajaran dapat dibuat menjadi jauh lebih menarik, efektif dan efisien jika dirancang dengan baik. Menurut Hasanah “Pembelajaran Matematika Maya adalah pembelajaran matematika yang berbasis web atau komputer sebagai media representasi visual dari objek dinamis yang memungkinkan untuk digunakan membangun pengetahuan matematika.”Perlu digarisbawahi bahwa penggunaan matematika maya ini dilakukan setelah siswa paham dengan konsep matematika. Cara melatih siswa menemukan konsep matematika yang lebih efisien adalah dengan memanfaatkan matematika realistis.

Pada akhirnya, jika kita melihat seorang arsitektur merancang sebuah bangunan, matematika realistik merupakan pondasi dasar dari bangunan/rumah, agar rumah dapat berdiri kokoh, kita harus menggunakan bahan-bahan yang bagus dan kulinya harus juga yang terbaik, sedangkan ruang makan, ruang tamu, kamar, jendela, genteng dan berbagai macam perabot merupakan matematika maya. Jadi, penulis mempunyai kesimpulan bahwa Matematika Realistik merupakan akar dari Matematika Maya, bukan lawan dari Matematika Maya.

Bagaimana pendapat anda?? Silahkan tinggalkan “comment” untuk tulisan ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: